Pernah nggak sih, sob, kalian melihat seorang ayah tua berjalan di pinggir jalan sambil menggandeng anaknya?
Beberapa waktu lalu, saya membayangkan sebuah pemandangan yang sederhana, tapi entah kenapa terasa begitu menyesakkan dada. Seorang laki-laki tua dengan pakaian lusuh berjalan di tengah hiruk pikuk lalu lintas kota. Di sampingnya ada seorang anak yang masih duduk di bangku SD. Mereka berjalan pelan, seolah sedang membawa beban yang jauh lebih berat daripada langkah kaki mereka.
Mobil-mobil berlalu dengan cepat. Klakson bersahutan. Orang-orang sibuk dengan urusannya masing-masing. Namun di tengah keramaian itu, ada dua manusia yang mungkin sedang berjuang untuk sekadar bertahan hidup hari ini.
Dan jujur saja, yang pertama kali terlintas di pikiran saya bukan tentang kemiskinan mereka.
Saya justru membayangkan isi hati sang ayah.
Karena menurut saya, mimpi terburuk seorang ayah bukanlah hidup sederhana atau kekurangan harta. Mimpi terburuk seorang ayah adalah ketika ia merasa gagal memberikan kehidupan yang lebih baik untuk anaknya.
Tidak ada ayah yang ingin melihat anaknya kesulitan.
Tidak ada ayah yang bangun pagi lalu berkata, “Hari ini aku ingin anakku hidup susah.”
Justru sebaliknya. Hampir semua ayah rela menahan lelah, menahan sakit, bahkan menunda kebahagiaannya sendiri demi anak-anaknya.
Yups, mungkin banyak dari kita yang pernah melihat seorang ayah pulang kerja dengan wajah lelah. Kadang bajunya basah oleh keringat. Kadang tangannya kasar karena pekerjaan. Tapi ketika sampai rumah dan melihat anaknya tersenyum, semua lelah itu seakan sedikit terbayar.
Nah, itulah yang sering tidak terlihat.
Kita sering menilai seseorang dari apa yang tampak di luar. Dari pakaian yang dikenakan. Dari kendaraan yang dipakai. Dari rumah yang ditempati.
Padahal bisa jadi, di balik pakaian lusuh seorang ayah, ada perjuangan yang luar biasa besar yang tidak pernah diceritakan kepada siapa pun.
Saya sering berpikir, mungkin ayah tua dalam gambaran tadi sebenarnya sedang memikirkan banyak hal.
Bagaimana biaya sekolah anaknya bulan depan.
Bagaimana kebutuhan makan keluarganya.
Bagaimana caranya agar anaknya tetap bisa belajar dan memiliki masa depan yang lebih baik daripada dirinya.
Dan yang paling berat, mungkin ia sedang berjuang melawan perasaan bahwa dirinya belum mampu memberikan semua yang diinginkan anaknya.
Sebagai orang tua, perasaan itu pasti tidak mudah.
Karena cinta seorang ayah sering kali tidak banyak diucapkan. Ia lebih sering ditunjukkan lewat kerja keras, lewat keringat, lewat langkah-langkah panjang yang tidak diketahui orang lain.
Makanya, ketika melihat pemandangan seperti itu, saya merasa diingatkan kembali untuk lebih banyak bersyukur.
Kadang kita mengeluh karena ponsel yang kita inginkan belum terbeli.
Kadang kita kesal karena kendaraan yang kita miliki belum sesuai harapan.
Kadang kita merasa hidup tidak adil karena belum mendapatkan apa yang kita inginkan.
Padahal di luar sana ada banyak orang yang sedang berjuang untuk kebutuhan yang jauh lebih mendasar.
Bahkan ada ayah yang hanya berharap anaknya bisa tetap sekolah.
Ada ayah yang hanya berharap anaknya bisa makan dengan cukup.
Ada ayah yang hanya berharap anaknya tidak kehilangan harapan meski hidup sedang tidak berpihak kepada mereka.
Teman-teman, hidup memang tidak selalu memberikan keadaan yang sama kepada setiap orang. Ada yang lahir dengan banyak kemudahan. Ada pula yang harus berjuang sejak kecil.
Namun satu hal yang saya percaya, kasih sayang orang tua tidak pernah bisa diukur dari tebal tipisnya dompet mereka.
Karena sering kali, justru mereka yang hidup dalam keterbatasanlah yang menunjukkan arti pengorbanan yang sebenarnya.
Jadi, jika hari ini kalian masih memiliki ayah yang berjuang untuk keluarga, peluklah beliau. Hargailah setiap usaha yang telah dilakukan, sekecil apa pun itu.
Dan jika kalian adalah seorang ayah, percayalah bahwa anak-anak tidak selalu mengingat apa yang berhasil kita berikan. Mereka lebih mengingat bagaimana kita mencintai, menjaga, dan menemani mereka dalam perjalanan hidup.
Pada akhirnya, pakaian bisa lusuh. Harta bisa berkurang. Keadaan bisa berubah.
Tetapi cinta seorang ayah yang tulus akan selalu menjadi tempat pulang yang paling berharga bagi seorang anak.











Leave a Review